Oknum Jaksa Sumenep Dilaporkan Ke Kejagung, Diduga Merekayasa Kasus

INDONESIASATU.CO.ID:

SUMENEP, –Indonesiasatu.co.id     Oknum Kejaksaan Negeri (Kejari) Sumenep, Madura, Jawa Timur, inisial AM dilaporkan ke Kejagung RI selasa 25 September 2018, atas dugaan merekayasa kasus penganiayaan.

AM yang punya jabatan Jaksa Fungsional Kejari Sumenep, selaku Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada perkara pidana penganiayaan atas nama Terdakwa Dewi Daeng Caya, yang dilaporkan Lembaga Keadilan Hukum (LKH) Korcam Ra’as.

Korcam Lembaga Keadilan Hukum (LKH) Ra’as, Sanhaji mengatakan, bahwa, atas laporan yang dilayangkan ke Kejagung, tertanggal 25 September 2018. Namun, hal itu ditnggapi serius ditindak lanjuti dan LKH telah menerima pemberitahuan dari Jaksa Agung Muda Pengawasan (JAM WAS) Kejaksaan Agung RI akan memproses melakukan pemeriksaan kepada oknum Jaksa Muda AM (Inisial) tersebut.

“Jamwas akan memeriksa terlapor sebagai pihak yang diduga merekayasa kasus penganiayaan. sementara juga nantinya akan memeriksa pihak pelapor, LKH dan serta akan memeriksa korban yang bernama Sahriya, katanya selasa, (13/11/2018) saat dikonfirmasi media ini.

Informasi yang diterima , bahwa Jamwas Kejagung dalam pemeriksaan akan turun langsung ke Sumenep, di jadwal Rabu, tanggal 21 November 2018 untuk meriksa terlapor.

‘Sudah ada pemberitahuan dari Jamwas Kejagung kepada kami, akan memeriksa terlapor di Sumenep,” jelas Sanhaji.

Sebelumnya, Oknum Jaksa Penuntut Umun (JPU), Sumenep inisial AM diduga merekayasa pada persidangan perkara penganiayaan dengan terdakwa bernama Dewi Daeng Caya yang disidangkan pada Selasa 25 September 2018, di Pengadilan Negeri (PN) Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Pelaksanaan sidang perkara, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Sumenep, disinyalir tidak pernah melakukan pemanggilan kepada saksi korban. Saksi pelapor, tidak pernah diminta mengahadap menghadiri persidangan untuk dimintai keterangan Oleh JPU (AM).

Sehingga, kata Andi, dengan tidak dipanggilnya atau dihadirkannya saksi pelapor ini, perlu dipertanyakan, “Ada apa dengan Jaksa Penuntut Umum tidak memanggil saksi korban ke persidangan, kenapa sidang tau-tau ada tuntutan tanpa memintai keterangan dari saksi korban atau saksi pelapor.

Akan tetapi JPU AM, malah langsung membacakan BAP saksi korban atau saksi pelapor tanpa memanggilnya ke persidangan,” katanya

Pihaknya menuding, JPU secara jelas telah mengesampingkan hak saksi korban, untuk menerangkan langsung keterangannya di persidangan, “Sehingga patut kami menduga dalam perkara ini ada yang ditutup-tutupi oleh JPU,” ucapnya.

Dijelaskan,, Beberapa saksi lainnya (kurang lebih 3 saksi) pada sidang pertama dan kedua ikut hadir ke persidangan duduk dikursi penonton sidang. Akan tetapi, ketiga saksi tersebut, JPU tidak pernah dipanggil untuk dimintai keterangannya dipersidangan, justru JPU langsung membacakan BAP penyidik terkait dengan keterangannya saksi – saksi ini,” tegasnya.

Dua fakta ini dapat menjadi bukti kuat atau petunjuk kuat adanya dugaan rekayasa perkara penganiayaan yang diduga dilakukan oleh JPU Sumenep. “Kalau ini dibiarkan, maka akan menjadi bias bagi perkara yang lain, masih banyak fakta dan bukti lainnya dalam dugaan rekayasa perkara penganiayaan ini yang diduga dilakukan oleh JPU.

“Kami akan terus mengejar oknum-oknum jaksa yang diduga merekayasa perkara ini, sampai oknum ini benar-benar diberikan tindakan sanksi tegas. bahkan, bila terbukti melakukan rekayasa perkara agar terhadap oknum jaksa ini dilakukan pemecatan,” ucapnya. Rabu (24/10/2018) (Nurul)

  • Whatsapp

Index Berita